Saturday, March 6, 2021

Valentine 2021

Can't ever imagine;
Im'ma be stuck here
sittin' on the corner,
leaning on a wall,
one table away,
from the exact spot we met,
our first date;

without you.


I still remember the dress you wore:
greenish-blue
with a cardigan on top,
flat shoes 'cause i'm short;
how sweet of you.


Anxiously glancing; eastward,
My heart throwing a wishful feeling,
butterflies in my stomach, flinging ticklishly;
I hope you were riding the escalator up,
walk towards me, with that longing smirk you always give;

i pray you were thinking as foolishly as i do.


My brain, my logic, my common sense;
figure that you wouldn't.
Why would you?
If every repercussion of my wrongdoings is you sayin' you leavin'.
Yet you said you never ever really left;
so why this time would be different;
had you change?
Had I?
Had We?


Two hours in a Starbucks,
40 bucks remaining to my name;
2020 hit me hard;
2021 hit me harder.
Would i ever come back to this again?
Would i ever bounce back from this, again?
Professional do-over without a job;
futures seems too dark.


It's pouring out raining.
Flashes of lights reminding me;
Maybe you will never be mine again.


Saturday, September 21, 2019

21st Night Of September

Aku selalu tidak suka malam 21 September.
Mungkin semacam sugesti yang membuatnya selalu sama.
Kelam.
Merusak hati.
Selalu bergejolak, tahun ke tahun.

Kenapa sayang?
Kenapa mesti sekeras itu hatimu?
Apa benar semuanya ingin kau gerus dari aku?
Kenapa mesti kamu hukum lebih berat dari biasanya?

Kenapa aku mesti diblok dari media sosialmu? Aku tak pernah mengganggumu disitu.
Kenapa?

Sunday, May 24, 2015

Kamu. Iya, kamu.

Aku rindu minggu pagi kita.
Saat aku merasa paling santai, tenang, dan 'mudah'. Tanpa beban, seakan melayang saja melalui hari.

Aku tidak mengerti kenapa. Benar-benar tidak mengerti.
Mengapa 'kita' begitu sulit bertahan?

Apa yang membuatmu begitu ragu padaku? Aku sudah bilang, berlaksa jarak pun ku terbang, aku kembali padamu. Dan aku tidak pernah turun untuk beristirahat mencari kesejukan, sejanak, melupakanmu; tidak pernah. Terlihat seperti itu memang, dan mungkin itu salahku, tapi tidak pernah terjadi.

Apa yang membuatku ragu padamu? Mungkin aku memang tidak akan pernah percaya padamu.

Apa yang membuat ku ragu pada kita? Karena seharusnya mudah. Karena seharusnya cukup.

Aku tahu kau luar biasa. Setiap wanita butuh kadar gila secukupnya. Aku hanya tak mampu menetralisir kadarmu; entah kadarmu terlalu besar, atau kemampuanku terlalu kecil.

Aku juga sedikit kesal, mengapa kau tidak bisa seromantis perlakuanmu pada orang baru itu dibanding terhadapku. Ya sudah, aku tahu pasti dia lebih pantas. Berikan kesempatan padanya. Berikan kesempatan pada hatimu untuk MAU diperbaiki. Jangan terpengaruh dan jangan tiru aku; aku sudah tidak tahu bentuk hatiku sendiri seperti apa. Berikan kesempatan pada kalian.

Mungkin kita seperti hamparan langit dan hamparan lautan di lepas pantai. Rasa dan logika akan melihat kita begitu cantik bersanding. Saling melengkapi, saling mengerti, saling berbagi bayangan biru yang berbeda. Tapi, garis batas horizon tahu yang sebenarnya.

Layaknya langit biru dan laut dalam yang menyatu di batas cakrawala; aku dan kamu tidak akan pernah benar-benar bersatu dan menyatu. "Kita" itu sebatas tipuan mata. "Kita" itu semu.






21 September 2019; aku tersadar. Mungkin aku memang tidak akan pernah lepas darimu.
Mungkin tulisan ini jadi semacam doa yang mengutuk.
Aku tahu, akan berat untukku melihatmu seperti ini lagi dengan orang lain. Tapi dari dulu aku tau memang kita harus memulai segalanya dai awal, kanvas putih, kosong-kosong.

Aku hanya ingin kita selamanya.

Journey

Wow.

What a crappy times.

2014 was relatively good, but 2015 been tough. Belum ada regular sejak Januari, i had to work on office hours to balance my cash-flow. Yeah, i had one. Mungkin karma, mungkin teguran, mungkin pure bad luck. What ever it was and it is, i try to enjoy it never the less.

Work been good, i hate the commune i had to take to got there but the job's fun. Still think that i got paid way less, comparing the cash-flow i'd have relying on singing.

Life? Well, i think and feel that God starting to trust me again; that's good. The only follower of this blog was dead; that's super sad. So long, Jess; and your daughter. I don't know, right now i'm torn between surviving my daily routine and enjoying them. I don't have plans, i just have hopes. I don't know, i don't know.

Love? Ergh.

Next post, please.

Friday, January 3, 2014

Resolute Reflection

When New Year came, i saw many social media post saying “It’s a new 365-paged book, write a good one.” or something like that. I don’t know from whom that quote was, some said that it was Pevita Pearce’s. Even my crush gave me that text. Probably by broadcasted that text. But i really hope that she texted me individually. But no no, we’re not gonna talk about that right now. 

Apa yang bakal gw omongin kali ini? Hmm, sedikit banyak mungkin yang bakal gw omongin adalah sama seperti yang orang-orang lain omongin: dikotomi antara masa yang sudah terlewat dengan harapan akan masa yang akan datang.

2013 was my best year. Well, not necessarily i was being the best, but it was full of joy riding that roller coaster. First, on January, Four Of Us was started. After being bullied by so much fake friendship and adornment, me and my friends finally making our own trial to shoot for our own. 4 individual musician making the better of our own self, and being a part as a group nonetheless. It was a good year with it’s ups and downs, but we enjoy every second of it. Buat gw pribadi, mudah-mudahan ke depannya, Four Of Us, baik secara individual dan sebagai sebuah grip, tetap mempunyai kenikmatan dan kesenangan untuk tampil bersama, berkembang bersama, berkembang masing-masing, dan tetap mencintai music dan menampilkannya dengan ketulusan. 

Bagaian berikutnya mungkin yang akan paling panjang. I broke up until almost 4 years of intimate relationship. Yup. It was my fault, i followed my ego and it was backfired on me. I knew. I know. But the thing was, i loved her so much, for the first two weeks, everyday i asked her what would it takes to get her back. But it gone down as this: for having the chance to try to get her back, i was not given; not allowed. And that, not given the chance even only to try, became a terrible trauma for me having a go to my crush; to date. Tapi yasudahlah, itu haknya si crush mau menganggap gw apa. Hal ini terjadi di sekitaran April, justru ketika skrripsi + ujian2 + ujian2 perbaikan untuk kesempatan terakhir gw bust lulus sedang berlangsung. Saat-saat itu emang legendaris. Gw yang gak punya semangat, memaksa diri gw sendiri untuk terus ngejar-ngejar kelulusan. Sidang yang terjadi 2 hari setelah batas terakhir sidang fakultas, ditolak, diberikan 4 hari untuk mengubah paradigma penuliasan, sidang lagi satu hari sebelum batas terakhir pemberesan nilai satu Univeritas, dan berhasil melaluinya. I was the last man from my batch having my thesis defended. Oh boy, what a legendary story. 
Berhasil melalui itu semua memberikan gw sedikit banyak keprcayaan diri bahwa “putus” adalah sebuah fase yang mau gak mau harus gw terima. Apalagi dengan adanya banyak wanita-wanita luar biasa yang berhasil menginsparasi gw untuk itu, accepting the fact that she was gone, forever. Wanita2 ini gw hargai dengan amat sangat, kagumi secara maksimal, sehingga ‘move on’ adalah hal yang menyenangkan, atau setidak2nya i was making fun of it. Dorongan semangat dari teman-teman dengan cara mereka sendiri, dorongan inspirasi dari wanita-wanita tersebut, serta keinginan dan self esteem yang sudah sedikit meningkat membuat gw berani untuk mencoba mengikuti scholarship challenge yang dibuka oleh salah satu sekolah audio ternama yang menag gw pengen masuki.

After having the approval of my graduation, for keeping my mind busy, gw langsung mencoba mengikuti scholarship challenge tersebut dengan memproduksi rekaman gw sendiri, gw terpilih di 6 besar dan mendapatkan beasiswa sebagian. Setalah hitung-menghitung dan memberikan proposal kepada orang tua, mereka menyetujuinya. Dan September 2013, gw menjadi mahasiswa lagi, di kumpulan seniman berotak sedikit lebih absurp dibanding orang-orang di perkuliahan gw sebelumnya ;) 
Gw merasa diterima, sebagai gw apa adanya, disana. Meskipun gw belum menjadi murid yang gw pengen gw menjadi, gw masih tetap terus menikmati setiap jejak usaha yang gw lalui disana. Very fvcking fun and awesome.

Now, I’m back to my parents house. Mulai hidup baru disini setelah hampir 8 tahun ngekost, 6 tahun hidup sendiri, sekarang mesti tunduk lagi sama jam rumah. Sekarang cukup pede buat ngajakin cewek having a casual date tanpa wacana dan ekspektasi apapun. Kalau pun ada, ya biarlah biarlah menjadi biarlah. Having a good rig of recording equipment, performing equipment, and planing to invest some more on that. Punya kamar yang lagi ditambahin buat urusan itu. Punya banyak teman baru di tempat baru. Masih punya teman-teman lama yang masih awesome selalu. Wow. 2013 adalah tahun yang benar-benar membuat gw menemukan diri gw sendiri berulang2. Menemukan siapa sebenarnya Yonathan Luther Manullang a.k.a. Boyot itu. 

2014 harapan gw buat gw cuma 1: gw pengen direndahkan hatinya oleh Tuhan bahwa gw belum menjadi apa-apa; bahwa bakat gw belum gw eksploitasi secara maksimal, bahwa keahlian dan pengetahuan gw cuma sekedar, bahwa keseksian gw belum sekelas Justin Timberlake, bahwa masih banyak passion kecil2 gw yang amat sangat berguna bila gw mau mewujudkan, bahwa perwujudan mimpi adalah seumur hidup, bahwa gw hidup bukan untuk diri sendiri tapi juga keluarga terutama bonyok friends colleagues and all the peoples around me; sehingga keinginan belajar gw tetap tinggi di segala aspek kehidupan. Dan semua itu dilalui dengan dua senjata yang selalu diajarkan Tuhan untuk gw pakai: Cinta (kasih) dan ketulusan.


Thursday, April 18, 2013

Four Of Us - The Beginning


Puji Tuhan. Thank God.

I, as the vocalist of Little Coustic, won the "Be Electro-voiced!" contest that was held by the South East Asia Electro Voice.
I submitted Little Coustic's perfromances at The Living World (Alam Sutra), a very big mall, performing Adele's “Rolling In The Deep” with our own arrangements. I submitted that particular video for two main reasons:
1.       It fitted and captured the spirit of “Be Electro-voiced!”. It’s punchy and powerful.
2.       A big part of those arrangements is my idea; I believe that my band mates will back me up on this; so if there is any problem with the “intellectual” thingies, it could be resolve quickly.
(Actually I came up with the idea after hearing Dirty Loops’ cover of the same song, so a big credit to them too.)
I really thought that only the vocalist would get the predicate as the winner, because the prize is a wireless system of microphone. So I told my band mates that I submitted it, and they gave their blessing.
Unfortunately, Little Coustic has been going through some problems and changes. Couple of my band mates had already told me that Little Coustic can’t be their ship of creativity anymore, because of the problems and changes I mentioned earlier. Per February 2013, we decided to take a break. We decided to finish our contracts in several places at January, and then that’s it.
I talked to my band mates off the stage and it’s looked like that we still have the passion and eagerness, and most important of all, enjoy of playing music together. One thing led to another, we decided to form a new identity, without having the limitation of playing acoustic; but still have that taste that we used to, a loooong time ago, have.
Then came the announcement to my email that the video I submitted got picked as the November-December winner. I was thrilled and told my band mates about it. Then I contacted EV to tell about the problems and so on. Fortunately, they are okay with all that, and asked me about to send some brief profile about each of us. And the story goes.
Now, it just the Four Of Us.

Tuesday, November 6, 2012

Dreams


Some of us chasing our dreams to death. Some of us just go with the flow. 
Some of us lucky enough getting what they get, regardless they deserve them or not.
But sometimes, people can be so strangled to their dreams; they just keep on dreaming, enjoying dreaming, and just dreaming, without doing anything about it.

Some people love dreaming so much, they start to do something about it; trying to manipulate it so that dreams can be controlled. 
It makes sense, because in dreams, you can be anything you want; just like in real life, but with less effort. They like it so much, being awake is the downside of their day. Reality is boring, and they can't wait to sleep again.

Me?

I'm chasing my dreams, to live my dreams.

And i prefer not sleeping than being caught in a dream that kept me from the reality.

Reality, no matter how crappy it is, real.